Heboh berita fenomena viral di media sosial belakangan ini memang tak pernah sepi dari perbincangan. Mulai dari video lucu hingga kontroversial, semua bisa dengan cepat menjadi pembicaraan hangat di jagad maya.
Menurut pakar media sosial, Arief Wardhana, fenomena viral di media sosial bisa terjadi karena berbagai faktor. “Konten yang unik, menarik, atau kontroversial cenderung lebih mudah menarik perhatian pengguna media sosial,” ujarnya.
Salah satu contoh fenomena viral yang baru-baru ini menggemparkan netizen adalah video tiktok seorang pemuda yang melakukan aksi nekat di atas gedung tinggi. Video tersebut mendapat berbagai komentar dan kecaman dari masyarakat. “Fenomena ini menjadi peringatan bagi kita semua tentang bahaya mencari popularitas dengan cara yang tidak bertanggung jawab,” kata Arief.
Namun, tidak semua fenomena viral di media sosial selalu negatif. Beberapa konten yang viral juga bisa memberikan dampak positif, seperti mengajak orang untuk peduli terhadap lingkungan atau menyebarkan informasi penting secara luas.
Menurut psikolog sosial, Budi Santoso, fenomena viral di media sosial juga bisa berpengaruh pada psikologi individu. “Ketika seseorang melihat konten yang viral dan mendapat banyak like atau komentar positif, bisa membuatnya merasa lebih berharga dan diakui oleh orang lain. Namun sebaliknya, jika konten yang diunggah mendapat reaksi negatif, bisa membuat seseorang merasa tertekan dan kehilangan rasa percaya diri,” jelasnya.
Dengan demikian, penting bagi kita untuk bijak dalam menggunakan media sosial dan memilih konten yang kita bagikan. Sebuah fenomena viral seharusnya memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bukan sebaliknya.
Sebagai pengguna media sosial, kita juga perlu kritis dalam menyaring informasi yang kita terima. Jangan langsung percaya dan menyebarkan berita tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Sebab, seperti yang dikatakan oleh Arief, “Heboh berita fenomena viral di media sosial bisa menjadi pisau bermata dua. Mampu memberikan hiburan namun juga bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.”
